A.
DIMENSI
KUALITAS UNTUK PRODUK JASA
1. Dimensi
Bukti Langsung (Tangible)
Dimensi ini meliputi
fasilitas fisik, perlengkapan, pegawai, dan sarana komunikasi. Dimensi ini juga
dikaitkan dengan bahwa dalam memberikan jasa harus dapat diukur atau ada
standardnya.
2. Dimensi
Kehandalan (Reliability)
Dimensi ini adalah
dimensi yang melihat kualitas jasa dari sisi kemampuan dalam memberikan pelayanan.
Sejauh mana pemberi jasa mampu memberikan jasa sesuai dengan apa yang
diharapkan oleh konsumen artinya bahwa pemberi jasa memiliki kemampuan dan
keterampilan dalam memberikan jasa kepada penerimanya. Oleh karena itu dimensi
ini juga disebut dimensi competence.
3. Dimensi
Daya Tanggap (Responsiveness)
Dimensi ini
membicarakan kualitas jasa berdasarkan apakah ada keinginan para staf untuk
membantu kesulitan pelanggan pada saat pelanggan mengalami masalah dalam
mengkonsumsi jasa yang diberikan. Disebut responsif bila para staf menunjukkan
kesigapan dalam menanggapi apa yang menjadi kesulitan konsumen.
4. Dimensi
Jaminan (Assurance)
Dimensi assurance ini
menyangkut kesopanan dari para staf dalam memperlakukan konsumen. Pemberi jasa dapat memberikan kepastian
kepada konsumen bahwa risiko telah diminimalisir sedemikian sehingga mereka
terbebas dari bahaya yang mungkin timbul sehubungan dengan jasa yang
dikonsumsi. Dimensi ini kadang-kadang dirinci menjadi dimensi courtesy, dimensi kemanan (security) dan dimensi
kepercayaan (credibility).
5. Dimensi
Empati
Dimensi empati sering
dijabarkan menjadi dimensi access dan dimensi communication. Maksudnya adalah
bahwa konsumen dapat dengan mudah menghubungi dan berkonsultasi dengan para
staf pemberi jasa terkait jasa yang diberikan. Staf pemberi jasa memiliki
kemampuan berkomunikasi yang baik dalam menjalin hubungan dengan konsumen dan
memiliki perhatian yang tulus, bukan dibuat-buat terhadap kebutuhan konsumen.
6. Dimensi
pemahaman terhadap pelanggan
Dimensi ini melihat kualitas
jasa dari aspek pemahaman pemberi jasa terhadap kebutuhan dan harapan pemakai
jasa. Artinya bahwa bagaimana pemberi jasa memberikan jasa kepada penerimanya
akan dipengaruhi oleh bagaimana pemahaman pemberi jasa terhadap konsumennya.
Karena apa yang baik bagi pelanggan diukur berdasarkan kesesuainnya terhadap
kebutuhan dan keinginan mereka. Dengan demikian, langkah awal adalah mengetahui
dan mengenali apa yang sesungguhnya menjadi kebutuhan dan keinginan mereka.
B.
SEVEN
BASIC QUALITY TOOLS
1. Cause
and Effect Diagram (Fishbone Diagram)
Fishbone Diagram atau Cause and
Effect Diagram dipergunakan untuk meng-identifikasikan dan menunjukkan hubungan
antara sebab dan akibat agar dapat menemukan akar penyebab dari suatu
permasalahan. Fishbone Diagram dipergunakan untuk menunjukkan faktor - faktor
penyebab dan akibat kualitas yang disebabkan oleh faktor-faktor penyebab
tersebut.
Langkah-langkah yang diperlukan
untuk membuat Cause and Effect Diagram adalah sebagai berikut :
1. Berikanlah
Judul, Tanggal, Nama Produk, Nama Proses dan daftar nama Partisipan.
2. Tentukan
Pernyataan Permasalahan yang akan diselesaikan.
3. Gambarkan
Kepala Ikan sebagai tempat untuk menuliskan Akibat (Effect).
4. Tuliskan
Pernyataan permasalahan tersebut di kepala Ikan sebagai Akibat (effect) dari penyebab-penyebab.
5. Gambarkan
Tulang Belakang Ikan dan Tulang-tulang Besar Ikan.
6. Tuliskan
Faktor-faktor penyebab utama yang mempengaruhi kualitas di Tulang Besar Ikan.
Pada Umumnya Faktor-faktor penyebab utama di Produksi itu terdiri dari 5M +1E
yaitu :
Machine (Mesin)
Machine (Mesin)
Method (Metode)
Man (Manusia)
Material (Material atau bahan produksi)
Measurement (Pengukuran)
Environment (Lingkungan)
7. Tuliskan
penyebab-penyebab sekunder berdasarkan kategori Faktor penyebab Utama dan
tuliskan di Tulang-tulang yang berukuran sedang.
8. Tuliskan
lagi penyebab-penyebab yang lebih details yang mempengaruhi penyebab sekunder
kemudian gambarkan tulang-tulang yang berukuran lebih kecil lagi.
9. Tentukanlah
faktor-faktor penyebab tersebut yang memang memiliki pengaruh nyata terdapat
Kualitas kemudian berikanlah tanda di faktor-faktor penyebab tersebut.
![]() |
2. Check
Sheet (Lembar Periksa)
Check Sheet digunakan sebagai tools
pertama dalam pengumpulan data sebelum digunakan untuk disajikan dalam bentuk
grafik. Dengan menggunakan Check Sheet atau Lembar Periksa yang terstruktur dan
standarisasi dengan baik maka kita dapat meminimalisasi perbedaan cara
pengambilan data berdasarkan masing-masing orang. Check Sheet merupakan tools
yang sering dipakai untuk pengambilan data di proses produksi yang kemudian
diolah menjadi informasi dan hasil yang bermanfaat dalam pengambilan keputusan.
Prosedur
pembuatan Check Sheet:
1. Menentukan
kejadian atau permasalahan apa yang akan diteliti.
2. Menentukan
kapan data tersebut akan diambil dan berapa lama pengambilannya.
3. Merancangkan
formatnya
4. Mencoba
atau menguji Check Sheet tersebut dalam bentuk draft (naskah konsep) untuk
memastikan check sheet tersebut mudah dipakai dan mencakup semua data yang kita
butuhkan.
5. Lakukan
perubahan jika diperlukan.
6. Isikan
data setiap kali kejadian atau permasalahan yang kita teliti tersebut terjadi.
![]() |
3. Diagram
Pareto
Diagram Pareto adalah grafik batang
yang menunjukkan masalah berdasarkan urutan banyaknya jumlah kejadian.
Urutannya mulai dari jumlah permasalahan yang paling banyak terjadi sampai yang
paling sedikit terjadi. Dalam Grafik, ditunjukkan dengan batang grafik
tertinggi (paling kiri) hingga grafik terendah (paling kanan).
Diagram Pareto sangat bermanfaat dalam menentukan dan
mengidentifikasikan prioritas permasalahan yang akan diselesaikan. Permasalahan
yang paling banyak dan sering terjadi adalah prioritas utama kita untuk
melakukan tindakan. Sebelum membuat sebuah Diagram Pareto, data yang
berhubungan dengan masalah atau kejadian yang ingin kita analisis harus
dikumpulkan terlebih dahulu. Pada umumnya, alat yang sering digunakan untuk
pengumpulan data adalah dengan menggunakan Check Sheet atau Lembaran Periksa.
Langkah-langkah dalam membuat
Diagram Pareto adalah sebagai berikut :
1. Mengidentifikasikan
permasalahan yang akan diteliti dan penyebab-penyebab kejadian.
(Contoh Permasalahan : Tingginya tingkat Cacat di Produksi Perakitan PCB, Penyebabnya : Solder Short, No Solder, Missing, Solder Ball dan Solder Crack)
(Contoh Permasalahan : Tingginya tingkat Cacat di Produksi Perakitan PCB, Penyebabnya : Solder Short, No Solder, Missing, Solder Ball dan Solder Crack)
2. Menentukan
Periode waktu yang diperlukan untuk analisis (misalnya per Bulanan, Mingguan
atau per harian)
3. Membuat
catatan frekuensi kejadian pada lembaran periksa (check sheet)
4. Membuat
daftar masalah sesuai dengan urutan frekuensi kejadian (dari tertinggi sampai
terendah).
5. Menghitung
Frekuensi kumulatif dan Persentase kumulatif
6. Gambarkan
Frekuensi dalam bentuk grafik batang
7. Gambarkan
kumulatif Persentase dalam bentuk grafik garis
8. Intepretasikan
(terjemahkan) Pareto Chart tersebut
9. Mengambil
tindakan berdasarkan prioritas kejadian / permasalahan
10. Ulangi
lagi langkah-langkah diatas meng-implementasikan tindakan improvement (tindakan
peningkatan) untuk melakukan perbandingan hasil.
![]() |
4. Histogram
Histogram merupakan tampilan bentuk
grafis untuk menunjukkan distribusi data secara visual atau seberapa sering
suatu nilai yang berbeda itu terjadi dalam suatu kumpulan data. Manfaat dari
penggunaan Histogram adalah untuk memberikan informasi mengenai variasi dalam
proses dan membantu manajemen dalam membuat keputusan dalam upaya peningkatan
proses yang berkesimbungan (Continous Process Improvement).
Berikut ini adalah Langkah-langkah
yang diperlukan dalam membuat Histogram :
1. Mengumpulkan data Pengukuran
Data yang untuk membuat Histogram
adalah data pengukuran yang berbentuk Numerik.
Sebagai
contoh:
Seorang
Engineer ingin mengumpulkan data pengukuran untuk panjangnya kaki komponen A
seperti tabel dibawah ini :
2. Menentukan besarnya Range
Sebelum menentukan Besarnya nilai
Range, kita perlu mengetahui Nilai terbesar dan Nilai Terkecil dari seluruh
data pengukuran kita. Cara untuk menghitung Nilai Range (R) adalah :
Range =
Nilai terbesar – Nilai terkecil
Untuk
contoh diatas, Besarnya Nilai Range adalah 0.6 dengan perhitungan dibawah ini:
Range
= 3.2 – 2.6
Range
= 0.6
3. Menentukan Banyaknya Kelas Interval
Sebagai
Pedoman, terdapat Tabel yang menentukan Kelas Interval-nya sesuai dengan
banyaknya Jumlah Sample Unit pada Data Pengukuran.
![]() |
Untuk
contoh kasus diatas, banyaknya sampel data pengukuran adalah 50 data, maka kita
memilih banyaknya kelas interval adalah 7 buah (menurut tabel adalah 6 sampai
10).
4. Menentukan Lebar Kelas Interval, Batas Kelas, dan
Nilai Tengah Kelas
a. Menentukan Lebar Kelas Interval
Yang
menentukan Lebar setiap kelas Interval adalah pembagian Range (Langkah 2) dan
Banyaknya Interval Kelas (Langkah 3).
Kasus yang sama, untuk cara menghitung Lebar Kelas Interval adalah :
Kasus yang sama, untuk cara menghitung Lebar Kelas Interval adalah :
Lebar
= Range / Kelas Interval
Lebar = 0.6 / 7
Lebar = 0.1 (dibulatkan)
Lebar = 0.6 / 7
Lebar = 0.1 (dibulatkan)
b. Menentukan Batas untuk setiap Kelas Interval
Untuk
menentukan Batas untuk setiap kelas Interval, kita memakai rumus :
Nilai terendah – ½ x
unit pengukuran
(dalam
kasus ini kita memakai unit pengukuran 0.1)
·
Batas Kelas Pertama :
Menentukan Batas bawah Kelas pertama :
Menentukan Batas bawah Kelas pertama :
2.6 – ½ x 0.1= 2.55
Selanjutnya
Batas Bawah kelas pertama ditambah dengan Lebar Kelas Interval untuk menentukan
Batas atas kelas pertama :
2.55 + 0.1 = 2.65
·
Batas Kelas Kedua :
Menentukan
Batas bawah Kelas Kedua :
Batas
Bawah Kedua adalah Batas Atas Kelas Pertama, yaitu : 2.65
Batas
Atas Kedua adalah Batas Bawah Kedua ditambah dengan Lebar Kelas Interval yaitu
: 2.65 + 0.1 = 2.75
·
Batas Kelas Ketiga dan seterusnya :
Dilanjutkan ke kelas ketiga dan seterusnya seperti cara untuk menentukan Batas Kelas Kedua.
Dilanjutkan ke kelas ketiga dan seterusnya seperti cara untuk menentukan Batas Kelas Kedua.
c. Menentukan Nilai Tengah setiap Kelas Interval :
·
Nilai Tengah Kelas Pertama :
Nilai Tengah Kelas Pertama = batas
atas + batas bawah kelas Pertama / 2
=
2.55 + 2.65 / 2
=
2.6
·
Nilai Tengah Kelas kedua dan seterusnya :
Nilai Tengah Kelas kedua dan
seterusnya mempergunakan cara yang sama seperti menghitung Nilai Tengah Kelas
Pertama.
![]() |
5. Menentukan Frekuensi dari Setiap Kelas Interval
Untuk mempermudah perhitungan,
pakailah tanda “Tally” pengelompokkan 5 (lima) untuk menghitung satu per satu
jumlah frekuensi yang jatuh dalam kelas Interval.
Masih kasus yang sama, berikut ini tabel hasil perhitungannya :
Masih kasus yang sama, berikut ini tabel hasil perhitungannya :
![]() |
6. Membuat Grafik Histogram
a. Membuat
Garis Horizontal dengan menggunakan skala berdasarkan pada unit pengukuran data
b. Membuat
Garis Vertikal dengan menggunakan skala frekuensi
c. Menggambarkan
Grafik Batang, tingginya sesuai dengan Frekuensi setiap Kelas Interval
d. Jika
terdapat batasan Spesifikasi yang ditentukan oleh Customer (Pelanggan) maka
tariklah garis vertikal sesuai dengan spesifikasi tersebut.
![]() |
5. Control
Chart (Peta Kendali)
Control Chart atau Peta Kendali
dipergunakan untuk memonitor atau memantau stabilitas dari suatu proses serta
mempelajari perubahan proses dari waktu ke waktu. Control Chart memiliki Upper
Line (garis atas) untuk Batas kendali tertinggi (Upper Control Limit), Lower
Line (garis bawah) untuk Batas kendali terendah (Lower control limit) dan Garis
Tengah (Central Line) untuk Rata-rata (Average). Data yang dimasukkan berupa
titik-titik yang kemudian digambarkan garis untuk memperlihatkan grafiknya.
Dibawah ini adalah prosedur dasar
yang digunakan untuk membuat sebuah Control Chart (Peta Kendali) :
1. Pilih
jenis control chart yang sesuai untuk data yang kita ambil.
·
Control Chart Data
Atribut
·
Control Chart Data
Variabel
2. Tentukan
waktu atau periode pengambilan data, sampling plan dan jumlah data yang
diinginkan.
3. Pengumpulan
data dan rekam (record) data tersebut, setidaknya 20 sampai 25 subgroup.
4. Hitunglah
masing-masing data statistik subgroup, buatkan tabel tabulasi untuk mempermudah
perhitungan Rata-rata (X), Rata-rata X (X-bar), Range (R) dan rata-rata Range
(R-bar).
5. Identifikasikan
skala yang tepat dan cocok kemudian masukkan kedalam data statistik.
6. Hitunglah
garis tengah dan batas control (control limit) untuk UCL dan LCL sesuai dengan
rumus masing-masing control chart.
7. Ujilah
Chart yang telah dimasukkan data tersebut.
8. Lakukanlah
investigasi dan tindakan perbaikan jika diperlukan.
![]() |
6. Scatter
Diagram (Diagram Pencar)
Scatter Diagram atau Diagram Pencar
berfungsi untuk melakukan pengujian terhadap seberapa kuatnya hubungan antara 2
(dua) variabel serta menentukan jenis hubungan dari 2 (dua) variabel tersebut apakah
hubungan Positif, hubungan Negatif ataupun tidak ada hubungan sama sekali.
Bentuk dari Scatter Diagram atau Diagram Pencar adalah gambaran grafis yang
terdiri dari sekumpulan titik-titik (point)dari nilai sepasang variabel
(Variabel X dan Variabel Y).
Dalam bahasa Inggris, Scatter
Diagram sering disebut juga dengan Scatter Chart, Scatter plot, Scattergram dan
Scatter graph. Sedangkan dalam bahasa Indonesia, Scatter Diagram sering dikenal
dengan istilah Diagram Pencar, Diagram Sebar ataupun Diagram Tebar.
Berikut ini adalah Langkah-langkah
yang diperlukan dalam membuat Scatter Diagram (Diagram Pencar) :
1. Pengumpulan data
Lakukan pengumpulan sepasang data X
dan Y yang akan dipelajari hubungannya kemudian masukkanlah data tersebut ke
dalam sebuah Tabel. Usahakan pengumpulan pasangan data melebihi 30 pasangan
data (n > 30) agar tingkat ke-akurasi-annya lebih tinggi.
2. Pembuatan Sumbu Vertikal dan Sumber Horizontal
Tentukanlah nilai Maksimum dan
nilai Minimum dari kedua data variabel X dan Y tersebut kemudian buatlah sumbu
Vertikal dan sumbu Horizontal beserta skalanya sesuai dengan nilai Maksimum dan
Nilai Minimum yang didapat.
3. Penebaran (Plotting) data
Lakukanlah Penebaran data (data
plotting) kedalam kertas yang telah dibuat pada langkah ke-2 (langkah pembuatan
sumbu vertikal dan sumbu horizontal)
4. Pemberian Informasi
Berikanlah informasi yang
secukupnya untuk Scatter Diagram tersebut seperti :
a. Judul
Grafik
b. Banyaknya
pasangan data
c. Judul
dan unit pengukuran untuk sumbu Vertikal dan Horizontal
d. Interval
Waktu
e. Orang
yang membuat dan penanggung Jawab Scatter Diagram tersebut.
Contoh Kasus :
Perusahaan
A yang mempunyai Tenaga Kerja sebanyak 300 orang dan bergerak di bidang
industri perakitan elektronik sedang menghadapi permasalahan atas tingginya
tingkat kerusakan dalam produksi. Dicurigai bahwa penyebabnya adalah
dikarenakan jumlah absensi operator (tenaga kerja) yang tinggi di dalam
produksinya. Berikut ini adalah Tabel tentang jumlah absensi tenaga kerja
dengan tingkat kerusakan.
![]() |
Berdasarkan
Contoh kasus dan Tabel diatas, maka kita dapat membuat Scatter Diagramnya
mengikuti langkah-langkah yang telah disebutkan diatas tadi.
1. Pengumpulan data
Seperti yang telah ditampilkan
dalam tabel diatas dengan pasangan data sebanyak 30 data (n = 30)
2. Pembuatan Sumbu Vertikal dan Sumber Horizontal
Sumbu Horizontal : Nilai Maksimum
untuk Absensi adalah 6 dan Minimumnya adalah 1
Sumbu Vertikal : Nilai Maksimum untuk tingkat kerusakan adalah 5,6 dan Minimumnya adalah 0,7
Sumbu Vertikal : Nilai Maksimum untuk tingkat kerusakan adalah 5,6 dan Minimumnya adalah 0,7
Catatan :
·
Agar bentuk grafik lebih
bagus, kita dapat lebihkan batas skala maksimum dan minimum
·
Jika yang diuji adalah
hubungannya dengan kualitas, maka tingkat kerusakan lebih baik diletakkan pada
sumbu Vertikal.
3. Penebaran Data (Data Plotting)
Lakukan Penebaran data sesuai
dengan tabel diatas dengan cara menggambarkan titik-titk X dan Y.
4. Pemberian Informasi
Berikanlah informasi dan Judul
Scatter Diagram seperti contoh dibawah ini:
Judul
Scatter Diagram : Hubungan
antara Absensi dengan Tingkat Kerusakan
Banyak
pasangan data : n
= 30
Judul dan
unit pengukuran : Sumbu
Vertikal = Tingkat Kerusakan (%)
Sumbu Horizontal =
Jumlah Absensi (Orang)
Interval
waktu : 01
~ 30 Oktober 2015
Nama
Pembuat : Dickson
7. Flowchart
(Diagram Alir)
Flowchart dipergunakan untuk
menggambarkan proses-proses operasionalnya sehingga mudah dipahami dan mudah
dilihat berdasarkan urutan langkah dari suatu proses ke proses lainnya. Flowchart atau Diagram Alir sering digunakan
untuk mendokumentasikan standar proses yang telah ada sehingga menjadi pedoman
dalam menjalankan proses produksi. Disamping itu, Flowchart atau Diagram Alir
ini juga digunakan untuk melakukan Analisis terhadap proses produksi sehingga
dapat melakukan peningkatan atau perbaikan proses yang berkesinambungan (secara
terus menerus).
Berikut ini adalah bentuk atau
simbol standar yang sering ditemukan dalam Flowchart (Diagram Alir) :
![]() |
1. Simbol
Mulai/Awal atau Selesai/Akhir (Start/End)
Simbol Start dan End biasanya
dilambangkan dengan Oval, Lingkaran ataupun Kotak yang sudutnya dibulatkan.
2. Simbol
Proses atau Kegiatan (Process)
Simbol untuk Proses/Langkah atau
kegiatan yang akan dilakukan pada umumnya berbentuk Kotak Persegi Panjang
(rectangle).
3. Simbol
Kondisional atau Keputusan (Conditional or Decision)
Simbol Kondisional atau Keputusan
biasanya dilambangkan dengan Kotak yang berbentuk Diamond (Rhombus) yang pada
umumnya akan mempunyai Output (keluaran) seperti Ya atau Tidak, Benar atau
Salah.
4. Simbol
Arah Aliran (Flow)
Simbol Arah Aliran Proses
dilambangkan dengan Panah (Arrow) dengan anak panahnya menuju ke proses
selanjutnya.
5. Simbol
Masukan/Keluaran (Input/Output )
Simbol untuk menunjukan Masukan dan
Keluaran Data (Input dan Output) dilambangkan dengan Kotak yang berbentuk
Jajaran genjang (Parallelogram).
Contoh Flowchart:










