A.
Pengukuran Beban Kerja
Salah satu tolak ukur waktu yang dapat digunakan untuk menentukan
beban kerja seseorang adalah dengan mengukur penggunaan energy kerja (energi
otot manusia) yang dikeluarkan untuk melaksanakan tugas-tugasnya. Berat atau
ringannya kerja yang harus dilakukan oleh seorang pekerja akan bisa ditentukan
dari gejala-gejala perubahan yang tampak dan bisa diukur lewat pengukuran
fisiologi manusia antara lain seperti (Wignjosoebroto, 2000):
1.
Detak jantung (heart rate)
2.
Tekanan darah (blood
pressure)
3.
Temperatur badan (body
temperature)
4.
Laju pengeluaran keringat (sweating rate)
5.
Konsumsi oksigen yang dihirup (oxygen consumption)
6.
Kandungan asam laktat dalam darah (latic acid content)
B. Kerja Fisik dan Aktivitas Kerja Manusia
Secara
umum yang dimaksud dengan kerja fisik (physical work) adalah kerja yang memerlukan energi fisik otot manusia sebagai
sumber tenaganya (power). Kerja fisik seringkali juga disebut sebagai manual
operation dimana performance kerja sepenuhnya akan tergantung
manusia baik yang berfungsi sebagai sumber tenaga (power) maupun
pengendali kerja (control). Kerja fisik, seringkali dikonotasikan
sebagai kerja berat ataupun kerja kasar, dapat dirumuskan sebagai kegiatan yang
memerlukan usaha fisik manusia yang kuat selama periode kerja berlangsung.
Dalam hal kerja fisik ini maka konsumsi energi (energi consumption)
merupakan faktor utama dan tolok ukur yang dipakai sebagai penentu berat
ringannya kerja fisik tersebut.
C. Penilaian Beban Kerja Fisik
Metode
penilaian beban kerja tidak langsung adalah dengan menghitung denyut nadi
selama bekerja. Penggunaan nadi kerja untuk menilai berat ringannya beban kerja
mempunyai beberapa keuntungan, selain mudah, cepat, efisien dan murah juga
tidak diperlukan peralatan yang mahal serta hasilnya pun cukup reliabel dan
tidak menganggu ataupun menyakiti orang yang diperiksa.
Denyut
nadi untuk mengestimasi indek beban kerja fisik terdiri dari beberapa jenis
yaitu:
1.
Denyut Nadi Istirahat (DNI) adalah rerata denyut nadi
sebelum pekerjaan dimulai.
2.
Denyut Nadi Kerja (DNK) adalah rerata denyut nadi selama
bekerja.
3.
Nadi Kerja (NK) adalah selisih antara denyut nadi istirahat
dengan denyut nadi kerja.
Peningkatan denyut nadi mempunyai
peranan yang sangat penting di dalam peningkatan cardiat output dari
istirahat sampai kerja maksimum. Peningkatan yang
potensial dalam denyut nadi dari istirahat sampai kerja maksimum oleh Rodahl
(1989) dalam Tarwaka, dkk (2004) didefinisikan sebagai Heart Rate Reverse (HR Reverse) yang diekspresikan dalam presentase
yang dapat dihitung menggunakan rumus sebagai berikut :
% HR Reverse =
x
100
Denyut
Nadi Maksimum (DNMax) adalah (220 – umur) untuk laki-laki dan (200 – umur)
untuk perempuan. Lebih lanjut untuk menentukan klasifikasi beban kerja
bedasarkan peningkatan denyut nadi kerja yang dibandingkan dengan denyut nadi
maksimum karena beban kardiovaskuler (cardiovasculair load = % CVL)
dapat dihitung dengan rumus sebagai berikut :
%
CVL =
Dari hasil perhitungan % CVL
tersebut kemudian di bandingkan dengan klasifikasi yang telah ditetapkan
sebagai berikut:
Tabel 2.1. Klasifikasi Beban
Kerja Berdasar % CVL
|
%
CVL
|
Interpretasi
% CVL
|
|
< 30%
|
Tidak
terjadi kelelahan
|
|
30% -< 60%
|
Diperlukan
perbaikan
|
|
60% -< 80%
|
Kerja
dan waktu singkat
|
|
80% -< 100%
|
Diperlukan
tindakan segera
|
|
>100%
|
Tidak
diperbolehkan beraktivitas
|
Selain cara tersebut diatas cardivasculair strain dapat
diestimasi menguunakan denyut nadi pemulihan (heart rate recovery) atau
dikenal dengan Metode Brouha. Keuntungan metode ini adalah sama sekali tidak
menganggu atau menghentikan pekerjaan, karena pengukuran dilakukan setelah
subjek berhenti bekerja. Denyut nadi pemulihan (P) dihitung pada akhir 30 detik
menit pertama, kedua dan ketiga (P1, P2, P3). Rerata dari ketiga nilai tersebut
dihubungkan dengan total cardiac cost dengan ketentuan sebagai berikut:
1.
Jika P1 – P3 ≥ 10 atau P1, P2,
P3 seluruhnya < 90, nadi pemulihan normal.
2.
Jika rerata P1 yang tercatat ≤
110, dan P1 – P3 ≥ 10, maka beban kerja tidak berlebihan (not excessive).
3.
Jika P1 – P3 < 10 dan Jika
P3 > 90, perlu redesaian pekerjaan.
Laju
pemulihan denyut nadi dipengaruhi oleh nilai absolue denyut nadi pada
ketergantungan pekerjaan (the interruption of work), tingkat kebugaran (individual
fitness) dan pemaparan lingkungan panas. Jika pemulihan nadi tidak segera
tercapai maka diperlukan redesain pekerjaan untuk mengurangi tekanan fisik.
Redesain tersebut dapat berupa variabel tunggal maupun variabel keseluruhan
dari variabel bebas task (tugas), organisasi kerja dan lingkungan kerja
yang menyebabkan beban kerja tambahan.
D.
Kelelahan
Kelelahan akibat kerja seringkali diartikan sebagai
proses menurunnya efisiensi, performans kerja, dan berkurangnya kekuatan/
ketahanan fisik tubuh untuk terus melanjutkan kegiatan yang harus dilakukan.
Ada beberapa macam kelelahan yang dikenal dan diakibatkan oleh factor-faktor
yang berbeda-beda seperti :
1. Lelah
otot, yang dalam hal ini bias dilihat dalam bentuk munculnya gejala kesakitan
yang amat sangat ketika otot harus menerima beban kerja yang berlebihan.
2. Lelah
visual, yaitu lelah yang diakibatkan ketegangan yang terjadi pada organ visual
(mata). Mata yang terkonsentrasi secara terus menerus pada suatu objek (layar
monitor) seperti yang dialami oleh operator computer misalnya, akan terasa
lelah. Cahaya yang terlalu kuat yang mengenai mata juga akan bias menimbulkan
gejala yang sama.
3. Lelah
mental, dimana dalam kasus ini datangnya kelelahan bukan diakibatkan secara
langsung oleh aktivitas fisik, melainkan lewat kerja mental (proses berpikir).
Lelah mental ini seringkali pula disebut sebagai lelah otak.
4. Lelah
monotonis, adalah jenis kelelahan yang disebabkan oleh aktivitas kerja yang
bersifat rutin, monoton ataupun lingkungan kerja yang sangat menjemukan.
Pekerjaan-pekerjaan yang tidak memberikan “tantangan”, tidak memerlukan skill,
dan lain-lain akan menyebabkan motivasi pekerja akan rendah. Di sini, pekerja
tidak lagi terangsang dengan pekerjaan ataupun lingkungan kerjanya. Situasi
kerja yang monoton dan menimbulkan kebosanan akan mudah terjadi pada
pekerjaan-pekerjaan yang dirancang terlalu ketat. Kondisi semacam ini jarang
terjadi dalam kegiatan yang memberikan fleksibilitas bagi pekerja untuk
mengembangkan kreativitas dan mengatur irama kerjanya sendiri.
Timbulnya rasa lelah
dalam diri manusia merupakan proses yang terakumulasi dari berbagai faktor
penyebab dan mendatangkan ketegangan (stress) yang dialami oleh tubuh manusia.
Untuk menghindari akumulasi yang terlalu berlebihan, diperlukan adanya
keseimbangan antara masukan datangnya sumber kelelahan tersebut (faktor-faktor penyebab kelelahan)
dengan jumlah keluaran yang diproses lewat proses pemulihan (recovery). Proses pemulihan dapat
diproses dengan cara antara lain memberikan waktu istirahat yang cukup, baik
yang terjadwal/ terstruktur atau tidak dan seimbang
dengan tinggi rendahnya tingkat ketegangan kerja. Proses pemulihan akan
memberikan kesempatan kerja fisik maupun psikologis (mental) manusia untuk
lepas dari beban yang menghimpitnya.
Kelelahan yang
disebabkan oleh faktor yang berlangsung secara terus menerus dan terakumulasi
akan menyebabkan yang disebut dengan “lelah
kronis”. Gejala-gejala yang tampak jelas akibat lelah kronis ini dapat
dicirikan seperti :
1. Meningkatnya
emosi dan rasa jengkel sehingga orang menjadi kurang toleran atau asosiasi
terhadap orang lain.
2. Munculnya
sikap apatis terhadap pekerjaan.
3. Depresi
yang berat, dan lain-lain.
Secara pasti datangnya
kelelahan yang menimpa pada diri seseorang akan sulit untuk diidentifikasi
secara jelas. Mengukur tingkatan kelelahan seseorang bukanlah pekerjaan yang
mudah. Prestasi ataupun performans kerja yang bisa ditunjukkan dengan output
kerja merupakan tolak ukur yang sering dipakai untuk mengevaluasi tingkatan
kelelahan.
Pemberian waktu istirahat pada dasarnya diperlukan
untuk memulihkan kesegaran fisik ataupun mental bagi diri manusia (pekerja).
Jumlah total waktu yang dibutuhkan untuk istirahat berkisar rata-rata 15% dari
total waktu kerja. Tetapi besar kecilnya prosentase tersebut juga dapat
tergantung pada tipe pekerjaannya (Wignjosoebroto, 2000).
E.
Asam Laktat
Asam laktat merupakan produk hasil
metabolisme karbohidrat tanpa menggunakan oksigen (metabolisme anaerob). Asam laktat
diproduksi di sel otot saat suplai oksigen tidak mencukupi untuk menunjang
produksi energi. Produk asam laktat normal terdapat di dalam tubuh manusia (Andre
Wijaya, 2014).
Kelelahan diakibatkan
oleh banyak faktor, termasuk akibat akumulasi metabolit dan deplesi glikogen
otot. Oleh karena itu, kadar glikogen dalam otot dan hati menjadi salah satu
parameter terjadinya kelelahan. Semakin berat aktivitas, maka kebutuhan energi
dalam bentuk adenosin trifosfat (ATP) semakin meningkat. Semakin banyak ATP
yang dihasilkan maka akan menghasilkan asam laktat yang semakin banyak. Semakin
banyak asam laktat yang tertimbun maka fungsi kerja otot akan terhalangi, hal
ini akan menyebabkan otot sulit melakukan kontraksi atau bahkan tidak
berkontraksi sama sekali, dan hasilnya otot akan mengalami kelelahan. Oleh karena itu,
kadar asam laktat menjadi salah satu parameter yang dapat menunjukkan
terjadinya kelelahan. Sementara glukosa juga dijadikan parameter karena
keterlibatannya dalam proses pembentukan ATP.
Selisih kadar asam laktat
sebelum dan setelah latihan berguna untuk mengetahui seberapa besar penumpukan
asam laktat yang terjadi didalam tubuh. Semakin besar selisih asam laktat, maka
tingkat kelelahan yang dirasakan oleh tubuh atlet akan semakin tinggi.
Sedangkan, semakin kecil selisih asam laktat, maka tingkat kelelahan yang
dirasakan tubuh atlet semakin rendah. Tingkat kelelahan ini berpengaruh
terhadap daya tahan dan daya saing atlet selama latihan dan kompetisi. Selisih
kadar asam laktat merupakan hasil pengurangan antara kadar asam laktat setelah
latihan terhadap sebelum latihan (Ketut dkk, 2014).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar