Rabu, 23 November 2016

Pengukuran Beban Kerja dan Kelelahan Fisiologis

A.  Pengukuran Beban Kerja
Salah satu tolak ukur waktu yang dapat digunakan untuk menentukan beban kerja seseorang adalah dengan mengukur penggunaan energy kerja (energi otot manusia) yang dikeluarkan untuk melaksanakan tugas-tugasnya. Berat atau ringannya kerja yang harus dilakukan oleh seorang pekerja akan bisa ditentukan dari gejala-gejala perubahan yang tampak dan bisa diukur lewat pengukuran fisiologi manusia antara lain seperti (Wignjosoebroto, 2000):
1.    Detak jantung (heart rate)
2.    Tekanan darah (blood pressure)
3.    Temperatur badan (body temperature)
4.    Laju pengeluaran keringat (sweating rate)
5.    Konsumsi oksigen yang dihirup (oxygen consumption)
6.    Kandungan asam laktat dalam darah (latic acid content)
B.  Kerja Fisik dan Aktivitas Kerja Manusia
Secara umum yang dimaksud dengan kerja fisik (physical work) adalah  kerja yang memerlukan energi fisik otot manusia sebagai sumber tenaganya (power). Kerja fisik seringkali juga disebut sebagai manual operation dimana performance kerja sepenuhnya akan tergantung manusia baik yang berfungsi sebagai sumber tenaga (power) maupun pengendali kerja (control). Kerja fisik, seringkali dikonotasikan sebagai kerja berat ataupun kerja kasar, dapat dirumuskan sebagai kegiatan yang memerlukan usaha fisik manusia yang kuat selama periode kerja berlangsung. Dalam hal kerja fisik ini maka konsumsi energi (energi consumption) merupakan faktor utama dan tolok ukur yang dipakai sebagai penentu berat ringannya kerja fisik tersebut.
C.  Penilaian Beban Kerja Fisik
Metode penilaian beban kerja tidak langsung adalah dengan menghitung denyut nadi selama bekerja. Penggunaan nadi kerja untuk menilai berat ringannya beban kerja mempunyai beberapa keuntungan, selain mudah, cepat, efisien dan murah juga tidak diperlukan peralatan yang mahal serta hasilnya pun cukup reliabel dan tidak menganggu ataupun menyakiti orang yang diperiksa.
Denyut nadi untuk mengestimasi indek beban kerja fisik terdiri dari beberapa jenis yaitu:
1.    Denyut Nadi Istirahat (DNI) adalah rerata denyut nadi sebelum pekerjaan dimulai.
2.    Denyut Nadi Kerja (DNK) adalah rerata denyut nadi selama bekerja.
3.    Nadi Kerja (NK) adalah selisih antara denyut nadi istirahat dengan denyut nadi kerja.
Peningkatan denyut nadi mempunyai peranan yang sangat penting di dalam peningkatan cardiat output dari istirahat sampai kerja maksimum. Peningkatan yang potensial dalam denyut nadi dari istirahat sampai kerja maksimum oleh Rodahl (1989) dalam Tarwaka, dkk (2004) didefinisikan sebagai Heart Rate Reverse (HR Reverse) yang diekspresikan dalam presentase yang dapat dihitung menggunakan rumus sebagai berikut :
% HR Reverse =  x 100
Denyut Nadi Maksimum (DNMax) adalah (220 – umur) untuk laki-laki dan (200 – umur) untuk perempuan. Lebih lanjut untuk menentukan klasifikasi beban kerja bedasarkan peningkatan denyut nadi kerja yang dibandingkan dengan denyut nadi maksimum karena beban kardiovaskuler (cardiovasculair load = % CVL) dapat dihitung dengan rumus sebagai berikut :
% CVL =

Dari hasil perhitungan % CVL tersebut kemudian di bandingkan dengan klasifikasi yang telah ditetapkan sebagai berikut:
               Tabel 2.1. Klasifikasi Beban Kerja Berdasar % CVL
% CVL
Interpretasi % CVL
< 30%
Tidak terjadi kelelahan
30% -< 60%
Diperlukan perbaikan
60% -< 80%
Kerja dan waktu singkat
80% -< 100%
Diperlukan tindakan segera
>100%
Tidak diperbolehkan beraktivitas
Selain cara tersebut diatas cardivasculair strain dapat diestimasi menguunakan denyut nadi pemulihan (heart rate recovery) atau dikenal dengan Metode Brouha. Keuntungan metode ini adalah sama sekali tidak menganggu atau menghentikan pekerjaan, karena pengukuran dilakukan setelah subjek berhenti bekerja. Denyut nadi pemulihan (P) dihitung pada akhir 30 detik menit pertama, kedua dan ketiga (P1, P2, P3). Rerata dari ketiga nilai tersebut dihubungkan dengan total cardiac cost dengan ketentuan sebagai berikut:
1.    Jika P1 – P3 ≥ 10 atau P1, P2, P3 seluruhnya < 90, nadi pemulihan normal.
2.    Jika rerata P1 yang tercatat ≤ 110, dan P1 – P3 ≥ 10, maka beban kerja tidak berlebihan (not excessive).
3.    Jika P1 – P3 < 10 dan Jika P3 > 90, perlu redesaian pekerjaan.
Laju pemulihan denyut nadi dipengaruhi oleh nilai absolue denyut nadi pada ketergantungan pekerjaan (the interruption of work), tingkat kebugaran (individual fitness) dan pemaparan lingkungan panas. Jika pemulihan nadi tidak segera tercapai maka diperlukan redesain pekerjaan untuk mengurangi tekanan fisik. Redesain tersebut dapat berupa variabel tunggal maupun variabel keseluruhan dari variabel bebas task (tugas), organisasi kerja dan lingkungan kerja yang menyebabkan beban kerja tambahan.
D.  Kelelahan
Kelelahan akibat kerja seringkali diartikan sebagai proses menurunnya efisiensi, performans kerja, dan berkurangnya kekuatan/ ketahanan fisik tubuh untuk terus melanjutkan kegiatan yang harus dilakukan. Ada beberapa macam kelelahan yang dikenal dan diakibatkan oleh factor-faktor yang berbeda-beda seperti :
1.    Lelah otot, yang dalam hal ini bias dilihat dalam bentuk munculnya gejala kesakitan yang amat sangat ketika otot harus menerima beban kerja yang berlebihan.
2.    Lelah visual, yaitu lelah yang diakibatkan ketegangan yang terjadi pada organ visual (mata). Mata yang terkonsentrasi secara terus menerus pada suatu objek (layar monitor) seperti yang dialami oleh operator computer misalnya, akan terasa lelah. Cahaya yang terlalu kuat yang mengenai mata juga akan bias menimbulkan gejala yang sama.
3.    Lelah mental, dimana dalam kasus ini datangnya kelelahan bukan diakibatkan secara langsung oleh aktivitas fisik, melainkan lewat kerja mental (proses berpikir). Lelah mental ini seringkali pula disebut sebagai lelah otak.
4.    Lelah monotonis, adalah jenis kelelahan yang disebabkan oleh aktivitas kerja yang bersifat rutin, monoton ataupun lingkungan kerja yang sangat menjemukan. Pekerjaan-pekerjaan yang tidak memberikan “tantangan”, tidak memerlukan skill, dan lain-lain akan menyebabkan motivasi pekerja akan rendah. Di sini, pekerja tidak lagi terangsang dengan pekerjaan ataupun lingkungan kerjanya. Situasi kerja yang monoton dan menimbulkan kebosanan akan mudah terjadi pada pekerjaan-pekerjaan yang dirancang terlalu ketat. Kondisi semacam ini jarang terjadi dalam kegiatan yang memberikan fleksibilitas bagi pekerja untuk mengembangkan kreativitas dan mengatur irama kerjanya sendiri.
Timbulnya rasa lelah dalam diri manusia merupakan proses yang terakumulasi dari berbagai faktor penyebab dan mendatangkan ketegangan (stress) yang dialami oleh tubuh manusia. Untuk menghindari akumulasi  yang terlalu berlebihan, diperlukan adanya keseimbangan antara masukan datangnya sumber kelelahan  tersebut (faktor-faktor penyebab kelelahan) dengan jumlah keluaran yang diproses lewat proses pemulihan (recovery). Proses pemulihan dapat diproses dengan cara antara lain memberikan waktu istirahat yang cukup, baik yang terjadwal/ terstruktur atau tidak dan  seimbang dengan tinggi rendahnya tingkat ketegangan kerja. Proses pemulihan akan memberikan kesempatan kerja fisik maupun psikologis (mental) manusia untuk lepas dari beban yang menghimpitnya.
Kelelahan yang disebabkan oleh faktor yang berlangsung secara terus menerus dan terakumulasi akan menyebabkan yang disebut dengan         “lelah kronis”. Gejala-gejala yang tampak jelas akibat lelah kronis ini dapat dicirikan seperti :
1.    Meningkatnya emosi dan rasa jengkel sehingga orang menjadi kurang toleran atau asosiasi terhadap orang lain.
2.    Munculnya sikap apatis terhadap pekerjaan.
3.    Depresi yang berat, dan lain-lain.
Secara pasti datangnya kelelahan yang menimpa pada diri seseorang akan sulit untuk diidentifikasi secara jelas. Mengukur tingkatan kelelahan seseorang bukanlah pekerjaan yang mudah. Prestasi ataupun performans kerja yang bisa ditunjukkan dengan output kerja merupakan tolak ukur yang sering dipakai untuk mengevaluasi tingkatan kelelahan.
Pemberian waktu istirahat pada dasarnya diperlukan untuk memulihkan kesegaran fisik ataupun mental bagi diri manusia (pekerja). Jumlah total waktu yang dibutuhkan untuk istirahat berkisar rata-rata 15% dari total waktu kerja. Tetapi besar kecilnya prosentase tersebut juga dapat tergantung pada tipe pekerjaannya (Wignjosoebroto, 2000).
E.  Asam Laktat
Asam laktat merupakan produk hasil metabolisme karbohidrat tanpa menggunakan oksigen (metabolisme anaerob). Asam laktat diproduksi di sel otot saat suplai oksigen tidak mencukupi untuk menunjang produksi energi. Produk asam laktat normal terdapat di dalam tubuh manusia (Andre Wijaya, 2014).
Kelelahan diakibatkan oleh banyak faktor, termasuk akibat akumulasi metabolit dan deplesi glikogen otot. Oleh karena itu, kadar glikogen dalam otot dan hati menjadi salah satu parameter terjadinya kelelahan. Semakin berat aktivitas, maka kebutuhan energi dalam bentuk adenosin trifosfat (ATP) semakin meningkat. Semakin banyak ATP yang dihasilkan maka akan menghasilkan asam laktat yang semakin banyak. Semakin banyak asam laktat yang tertimbun maka fungsi kerja otot akan terhalangi, hal ini akan menyebabkan otot sulit melakukan kontraksi atau bahkan tidak berkontraksi sama sekali, dan hasilnya otot akan mengalami kelelahan. Oleh karena itu, kadar asam laktat menjadi salah satu parameter yang dapat menunjukkan terjadinya kelelahan. Sementara glukosa juga dijadikan parameter karena keterlibatannya dalam proses pembentukan ATP.
Selisih kadar asam laktat sebelum dan setelah latihan berguna untuk mengetahui seberapa besar penumpukan asam laktat yang terjadi didalam tubuh. Semakin besar selisih asam laktat, maka tingkat kelelahan yang dirasakan oleh tubuh atlet akan semakin tinggi. Sedangkan, semakin kecil selisih asam laktat, maka tingkat kelelahan yang dirasakan tubuh atlet semakin rendah. Tingkat kelelahan ini berpengaruh terhadap daya tahan dan daya saing atlet selama latihan dan kompetisi. Selisih kadar asam laktat merupakan hasil pengurangan antara kadar asam laktat setelah latihan terhadap sebelum latihan (Ketut dkk, 2014).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar