Rabu, 23 November 2016

ANALISIS ESTIMASI BIAYA 2

1.    Cara Penentuan Biaya Overhead Pabrik
Tarif BOP diperlukan dalam rangka penentuan harga pokok produksi. Berdasarkan penentuan biaya BOP untuk masing-masing bagian, maka dapat dihitung tarif BOP dengan cara membagi BOP dianggarkan dengan tingkat kegiatan di masing-masing departemen (bagian). Penentuan tarif biaya overhead pabrik dilaksanakan melalui tiga tahap berikut:

a.         Menyusun Anggaran BOP
Dalam menyusun anggaran BOP harus diperhatikan tingkat kegiatan yang akan dipakai sebagai dasar penaksiran BOP. Ada tiga macam kapasitas yang dapat dipakai sebagai dasar pembuatan anggaran BOP antara lain:

1.        Kapasitas Praktis
Kapasitas praktis adalah kapasitas teoritis dikurangi dengan kerugian-kerugian waktu yang tidak dapat dihindari karena hambatan-hambatan intern perusahaan. Penetapan kapasitas praktis ini perlu dilakukan karena sangat tidak mungkin suatu pabrik dijalankan pada kapasitas teoritis.
Rumus:
Tarif Overhead Pabrik =

 Dengan demikian perlu diperhitungkan kelonggaran-kelonggaran waktu dalam penentuan kapasitas seperti penghentian pabrik yang tidak dapat dihindari karena kerusakan mesin.
Rumus:
Tarif Overhead Pabrik =

2.        Kapasitas Normal
Adalah kemampuan perusahaan untuk memproduksi dan menjual produknya dalam jangka panjang. Jika dalam penentuan kapasitaspraktis hanya diperhitungkan kelonggaran-kelonggaran waktu akibat faktor-faktor intern perusahaan, maka dalam penentuan kapasitas normal diperhitungkan pula kecenderungan penjualan dalam jangka panjang.
Rumus:

Tarif Overhead Pabrik =

3.        Kapasitas Sesungguhnya yang Diharapkan
Adalah kapasitas sesungguhnya yang diperkirakan akan dapat dicapai dalam tahun yang akan datang. Jika anggaran BOP didasarkan pada kapasitas sesungguhnya yang diharapkan, maka berarti ramalan penjualan tahun yang akan datang dipakai sebagai dasar penentuan kapasitas, sedangkan jika anggaran tersebut didasarkan pada kapasitas praktis dan normal, maka titik berat diletakkan pada kapasitas fisik pabrik.




Rumus:
Tarif Overhead Pabrik =

Penentuan tarif BOP atas dasar kapasitas sesungguhnya yang diharapkan merupakan pendekatan jangka pendek, dan metode ini umumnya mengakibatkan digunakan tarif yang berbeda dari periode ke periode. Penentuan tarif BOP atas dasar kapasitas praktis atau kapasitas normal merupakan pendekatan jangka panjang, yang menghubungkan tingkat kegiatan perusahaan dengan kapasitas fisik pabrik dan tidak dipengaruhi oleh perubahan-perubahan penjualan yang bersifat sementara. Dengan pendekatan ini tarif BOP relatif konstan untuk jangka waktu yang relatif lama.

b.      Memilih Dasar Pembebanan BOP Kepada Produk
Setelah anggaran BOP selesai disusun, maka langkah selanjutnya adalah memilih dasar yang akan dipakai untuk membebankan secara adil BOP kepada produk. Dasar pembebanan ini dikenal sebagai satuan kegiatan atau satuan penghitung yakni satuan yang dipakai untuk mengetahui jumlah kegiatan yang telah dilakukan oleh bagian produksi dan bagian jasa dalam rangka proses produksi. Satuan kegiatan ini sangat diperlukan dalam penyusunan anggaran BOP karena pada prinsipnya BOP merupakan hasil perkalian antara satuan kegiatan dengan tarif BOP.
Beberapa dasar yang dapat dipakai sebagai satuan kegiatan untuk membebankan BOP kepada produk, antara lain:
1.        Satuan produk
Metode ini merupakan metode yang paling sederhana dan langsung membebankan BOP kepada produk. Beban BOP untuk setiap produk dihitung dengan formula berikut:
Rumus:
            Tarif BOP persatuan =

Metode ini cocok digunakan untuk perusahaan yang hanya memproduksi satu jenis produk. Jika perusahaan menghasilkan lebih dari macam produk yang serupa dan berhubungan erat satu dengan yang lain, maka pembebanan dengan dasar tertimbang atau dasar nilai.

2.        Biaya bahan mentah
Jika BOP yang dominan bervariasi dengan nilai bahan mentah (misal biaya asuransi bahan baku), maka dasar yang dipakai untuk membebankannya kepada produk adalah biaya bahan baku yang dipakai. Formula perhitungan tarif BOP adalah sebagai berikut:
Rumus:
            Persentase OP per biaya bahan langsung
                                   
                                    =





3.        Biaya Tenaga Kerja Langsung
Jika sebagian besar elemen BOP mempunyai hubungan yang erat dengan jumlah upah TKL (contoh pajak penghasilan atas upah karyawan yang ditanggung perusahaan), maka dasar yang dipakai untuk membebankan adalah biaya TKL.
Rumus:
            Persentase OP per biaya pekerja langsung
           
                                    =

4.      Jam Tenaga Kerja Langsung (JTKL)
Oleh karena ada keterkaitan yang sangat erat antara biaya TKL dengan jumlah jam kerja langsung, maka BOP dibebankan atas dasar jam tenaga kerja langsung.
Rumus:
            OP per jam kerja langsung =

5.      Jam Mesin
Apabila BOP bervariasi dengan waktu penggunaan mesin (contoh bahan bakar atau listrik dipakai untuk menjalankan mesin), maka dasar yang dipakai untuk membebankannya adalah jam mesin.
Rumus:
            OP per jam mesin =              

Penentuan atau pemilihan satuan kegiatan ini merupakan tanggung jawab manajer produksi. Ia harus berhati-hati dalam hal ini. Kesalahan memilih satuan kegiatan mengakibatkan kesalahan pembebanan biaya overhead ke setiap bagian, atau kesalahan pembebanan biaya overhead kepada barang-barang yang disediakan. Ia akan mengakibatkan kesalahan harga pokok produksi.

c.       Menghitung tarif BOP
Setelah anggaran BOP selesai disusun dan ditentukan besar satuan kegiatan, maka langkah terakhir adalah menghitung tarif BOP dengan rumus sebagai berikut:
Rumus:

Jumlah BOP dianggaran = Tarif BOP x Tingkat kegiatan yang direncanakan







2.    Studi Kasus
Penentuan tarif biaya overhead pabrik (BOP) standar dalam perhitungan harga pokok produksi (Studi kasus pada PT. Sigi Multi Sejahtera Pasuruan Tahun 2011).
a.    Pemisahan Biaya Overhead Pabrik menurut Tingkah Laku
Penyusunan anggaran biaya overhead dipisahkan menurut tiga tingkah laku biaya, antara lain biaya overhead pabrik tetap, variabel, dan semivariabel. Berikut adalah tabel pemisahan biaya overhead pabrik menurut tigkah laku biaya:
 










































Dari perhitungan menggunakan metode Least Square, biaya listrik untuk jenis mesin 5 pk terdiri dari biaya tetap sebesar Rp425.973, dan biaya variabel sebesar Rp1.933 per jam kerja langsung per bulan. Biaya pemeliharaan mesin dan peralatan untuk jenis mesin 5 pk terdiri dari biaya tetap sebesar Rp1.059.814, dan biaya variabel sebesar Rp143 per jam kerja langsung per bulan. Biaya logistik untuk jenis mesin 5 pk terdiri dari biaya tetap sebesar Rp368.339, dan biaya variabel sebesar Rp121 per jam kerja langsung per bulan. Biaya lain-lain untuk jenis mesin 5 pk terdiri dari biaya tetap sebesar Rp311.914, dan biaya variabel sebesar Rp437 per jam kerja langsung per bulan.
b.   Analisis Penentuan Tarif Biaya Overhead Pabrik Standar
Dari perhitungan varians biaya overhead pabrik untuk produksi mesin 5 pk, terlihat bahwa biaya overhead pabrik dibebankan terlalu rendah sebesar Rp5.933.688. Persediaan awal mesin 5 pk tidak ada dikarenakan perusahaan baru beralih dari produksi berdasarkan pesanan menjadi produksi berdasarkan proses, dan tidak ada persediaan akhir mesin 5 pk di akhir tahun sebelumnya. Harga pokok produksi untuk mesin 5 pk adalah Rp3.643.075.537, dan persediaan akhir mesin 5 pk sebesar Rp4.650.597, dapat dihitung besarnya Harga Pokok Penjualan mesin 5 pk sebesar Rp3.638.424.940. Perbandingan antara besarnya persediaan akhir dengan Harga Pokok Penjualan terlalu besar , sehingga varians biaya overhead pabrik diatas tidak cukup signifikan untuk dialokasikan ke dalam persediaan akhir dan Harga Pokok Penjualan, dengan demikian, varians biaya overhead pabrik untuk jenis mesin 5 pk diperlakukan sebagai beban periodik, dengan langsung ditutup dalam akun Harga Pokok Penjualan.
PT. Sigi Multi Sejahtera menetapkan anggaran untuk produksi mesin tahun 2011 sebagai berikut:










Namun realisasi untuk produksi mesin tahun 2011 sebagai berikut:
 















Dari sajian di atas terlihat perbedaan yang cukup signifikan antara rencana dengan realisasi. Anggaran ditentukan oleh PT. Sigi Multi Sejahtera berdasarkan harga pasar pada saat itu untuk produksi mesin, 5 pk. Biaya bahan baku langsung untuk jenis mesin 5 pk dianggarkan sebesar Rp2.629.850.000 untuk produksi sebanyak 1490 unit, namun realisasi biaya bahan baku langsung sebesar Rp2.651.030.000, selisih Rp21.180.000 dari yang telah dianggarkan, dan realisasi produksi jenis mesin 5 pk adalah 1502 unit.
Realisasi biaya tenaga kerja langsung untuk produksi tahun 2011 sama dengan biaya tenaga kerja langsung yang dianggarkan, baik untuk jenis mesin 5 pk. Hal ini dikarenakan jam tenaga kerja langsung yang juga sama antara realisasi dengan jam tenaga kerja langsung yang direncanakan. Persamaan realisasi jam kerja langsung dengan rencana jam kerja langung tersebut menjelaskan tidak adanya jam yang menganggur selama memproduksi mesin baik jenis mesin 5 pk.
Realisasi biaya overhead pabrik berbeda dengan biaya overhead pabrik yang direncanakan, baik biaya overhead pabrik tetap maupun biaya overhead pabrik variabel. Biaya overhead pabrik tetap jenis mesin 5 pk dianggarkan sebesar Rp139.515.896, sedangkan realisasi biaya overhead pabrik tetap jenis mesin 5 pk sebesar Rp139.114.316, lebih rendah sebesar Rp371.580 dari anggaran. Perbedaan antara anggaran biaya overhead pabrik yang lebih besar dari realisasi mesin dibandingkan dengan selisih unit produksi mesin dimana realisasi lebih besar dari rencana, menunjukkan bahwa biaya overhead pabrik tetap dibebankan terlalu tinggi.
Perbedaan antara realisasi biaya overhead pabrik variabel dengan biaya overhead pabrik variabel yang dianggarkan untuk setiap jenis mesin dimana realisasi lebih besar dari anggaran, menunjukkan semakin besar jumlah unit yang diproduksi, semakin besar jumlah biaya overhead pabrik variabel yang dikeluarkan. Biaya overhead pabrik variabel jenis mesin 5 pk dianggarkan sebesar Rp810.675.449, sedangkan realisasi biaya overhead pabrik variabel jenis mesin 5 pk Rp815.587.420, selisih Rp 4.911.971 dari yang dianggarkan.
Dari analisa di atas, besarnya jumlah realisasi unit produksi setiap jenis mesin lebih besar dari jumlah rencana unit produksi setiap jenis mesin berbanding lurus dengan jumlah biaya variabel yang berkaitan erat dengan unit produksi seperti biaya bahan baku langsung dan biaya overhead pabrik variabel, dimana realisasi biaya lebih besar dari anggaran biaya, sedangkan biaya tenaga kerja langsung tidak berkaitan erat dengan unit produksi melainkan dengan jam produksi, dimana realisasi jam tenaga kerja langsung sama dengan jam tenaga kerja langsung yang dianggarkan. Hal ini menunjukkan bahwa varians biaya overhead pabrik sepenuhnya dipengaruhi oleh jumlah unit produksi.

c.       Kesimpulan
Biaya overhead pabrik PT. Sigi Multi Sejahtera yang dimasukkan ke dalam perhitungan harga pokok produksi dihitung berdasarkan biaya yang sesungguhnya terjadi di akhir periode produksi. PT. Sigi Multi Sejahtera belum menentukan tarif untuk masing-masing biaya overhead pabrik.
Setelah Penentuan Tarif Biaya Overhead Pabrik Standar, terjadi perbedaan yang signifikan antara biaya overhead pabrik yang sesungguhnya tejadi dengan biaya overhead pabrik yang ditarifkan, perbedaan tesebut disebabkan oleh jumlah output yang tidak terkendali. Perbedaan yang signifikan tersebut dialokasikan ke dalam Harga Pokok Penjualan dan persediaan akhir. Perbedaan Tersebut diperlakukan sebagai penyesuaian ke dalam akun Harga Pokok Penjualan dan persediaan akhir.

  
d.      Saran
Berdasarkan kesimpulan diatas, sebaiknya perusahaan menentukan tarif biaya overhead pabrik standar dalam menghitung untuk menghindari pembebanan yang tidak merata pada setiap unit output produksi. Harga pokok produksi dihitung secara periodik setiap akan melakukan produksi dengan biaya overhead pabrik yang telah ditentukan tarif standarnya. Pada akhir periode tahunan, biaya overhead pabrik yang telah dibebankan ke dalam produk, yaitu biaya overhead pabrik berdasarkan tarif standar, dibandingkan dengan biaya overhead pabrik yang sesungguhnya terjadi untuk mendapatkan jumlah varians atau selisih. Varians tersebut digunakan sebagai ukuran efisiensi dan efektifitas produksi. Dari perhitungan varians tersebut dapat diketahui penyebab tidak efisien dan tidak efektifnya produksi selama satu tahun sehingga produksi periode selanjutnya dapat direncanakan dengan lebih baik. Penyebab tersebut dapat berupa tidak terkendalinya jumlah produksi, yaitu jumlah produksi aktual jauh melebihi jumlah produksi yang direncanakan. Penyebab lainya yaitu terbuangnya bahan atau terbuangnya waktu dalam memproduksi dapat berarti tidak professional nya tenaga kerja atau divisi, atau mesin yang tidak bekerja secara optimal.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar